Surat Tan Malaka kepada Dick Van Wijngaarden

cerdasnews.com

CERDASNEWS.COM — Pak Guru Tan Malaka rupanya tak betah menjadi pengajar di perusahaan perkebunan Senembah di Deli Serdang. Ia tak betah bukan karena menerima murid-murid kuli kontrak, namun terlibat konflik berkepanjangan dengan pembesar perkebunan. Tan tak tahan. Ia memilih mengundurkan diri.

“Pada saat kau terima surat ini, mungkin sekali aku sudah lama ada di Medan atau Jawa. Aku minta berhenti lebih kurang satu setengan bulan yang lalu dan masih menunggu pergantian, kuingin melihat keadaan yang lain,” tulis Tan dalam surat bertitimangsa 5 Januari 1921.

Selama di Senembah, Tan memang tak akur dengan beberapa administrator perkebunan. Tan berpikir, tulis Harry A. Poeze dalam Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik 1897-1925, jika buruh itu terampil, maka pekerjaan menjadi efektif dan efisien. Kuncinya adalah melalui pendidikan. Namun pendapat Tan ini mendapat cibiran dari para petinggi perkebunan karena mendirikan sekolah bagi anak kuli sama saja menghamburkan uang.

“Mereka begitu takut. Karena perasaan-perasaan yang sangat peka. Perasaan-perasaan menjadi sangat peka karena adanya poenale sanctie (-pekerjaan wajib-) atau dalam bahasa Belanda sehari-hari perbudakan modern,” tulis Tan dalam menggambarkan suasana di Senembah.

Selepas dari Senembah, Tan pergi ke Semarang, Jawa Tengah. Disini kota ini, ia membuka sekolahnya sendiri pada Juni 1921. Sekolah model Tan Malaka ini kemudian berkembang di beberapa kota lain, dan disebut Sekolah Ra’jat.

Dalam waktu yang hampir berbarengan, di Yogyakarta pun muncul sekolah Taman Siswa oleh Ki Hajar Dewantara. Perbedaan keduanya, Sekolah Ra’jat memiliki semangat proletaris, sedangkan Taman Siswa pemuliaan akar budaya yang terbuka pada kultur lain, seperti dari Barat.*

Surat Tan Malaka

Tg. Morawa, 5 Januari 1921

Dick yang terbaik,

Pada saat kau terima surat ini, mungkin sekali aku sudah lama ada di Medan atau Jawa. Aku minta berhenti lebih kurang satu setengan bulan yang lalu dan masuh menunggu pergantian, kuingin melihat keadaan yang lain. Ya, khususnya melihat. Aku gemar sekali melakukan perjalanan dan melihat-lihat berbagai macam keadaan. Andaikata uangku masih banyak, maka pasti aku belum kembali ke Hindia. Aku masih akan lama tinggal di Barat yang selalu sibuk itu, sumber segala kemungkinan yang bisa dijadikan kenyataan.

Dick, hebat benar zaman yang kita alami sekarang ini. Aku termasuk orang yang berbahagia, karena hidup pada zaman ini. Aku mencoba akan menjadi manusia yang patut hidup pada zaman ini. Di tempat tinggalku yang sepi itu, selama berjam-jam aku dapat merenungkan tentang zaman ini, mengadakan perbandingan, menenggelamkan diri dalam hal-hal yang agung.

Bukan tempatnya di sini berbicara tentang kesulitan-kesulitan yang kualami akhir-akhir ini karena ucapan-ucapanku yang secara terus terang bersimpati dengan pikiran zaman ini. Tidak kuperhitungkan kesulitan-kesulitan itu, karena aku tetap merasa kuat didalam diriku, jika apa yang kuucapkan itu benar – dengan perkataan lain, benar-benar menggambarkan pendirianku. Akibat-akibat keadaan keuanganku juga kupandang kecil artinya. Hanya utangku karena belajar di Eropa itulah yang merupakan rintangan bagiku. Kalau tidak, mungkin sudah terjadi ramai-ramai di Deli. Mereka begitu takut. Karena perasaan-perasaan yang sangat peka. Perasaan-perasaan menjadi sangat peka karena adanya poenale sanctie (-pekerjaan wajib-) atau dalam bahasa Belanda sehari-hari perbudakan modern.

Nah, Dick, aku tidak akan bercerita lebih banyak tentang hal ini, karena, kalau dibiarkan, sampai esok pun aku belum akan habis bercerita. Jadi, janganlah salah tangkap bila selanjutnya aku akan menulis secara singkat saja. Dalam waktu pendek aku akan pergi. Di mana aku akan bekerja, seperti telah dikatakan, masih belum tentu. Bukan karena aku takut tidak akan mendapat pekerjaan. Kekurangan akan tenaga-tenaga pengajar di sini begitu besar, sehingga di manapun aku bisa bekerja; meninggalkan pekerjaan, dan kembali bekerja apabila perlu. Soalnya, belum ada kepastian dari dalam diriku sendiri dimana aku bisa mendapat pekerjaan yang paling subur. Mencapai kepastian itu lebih sulit karena, seperti yang dikatakan, aku harus melunasi utang. Jika utang itu tidak ada, aku benar-benar bebas.

Banyak harapan bagiku di Medan, tetapi tentu di Jawa begitu juga. Jika aku mengadakan aksi secara terbuka, maka tentu akan sulit sekali bagiku untuk mendapat pekerjaan. Sekarang hubunganku dengan orang lain masih cukup baik. Sehingga aku dicalonkan, misalnya, untuk duduk di Dewan Rakyat, sekalipun kecil sekali harapan aku akan diterima. Pemilihan diatur sedemikian rupa sehingga nasibku akan tergantug pada suatu pengangkatan oleh Gubernur Jenderal. Tidak akna nada harapan di dalam hatiku bahwa aku akan terpilih, karena bukannya rakyat (o, ironi, Dewan Rakyat) yang harus mengambil keputusan, tetapi gemeente-gemeente dari seluruh Hindia. Dan gemeente-gemeente itu penuh dengan alap-alap uang dan budak-budak. Andaikata rakyat, atau kalau memang perlu sebagian rakyat, yang menjadi pemilih, maka aku pasti akan terpilih karena aku akan mendapat sokongan dari SOK (Sumatra’s Oost Kust-Pantai Timur Sumatera) dan Aceh. Tetapi suara beberapa juta penduduk di sana itu tidak berlaku. Sehingga harapan terletak pada pengangkatan.

Diangkat atau tidak, aku tetap harus memberi pekerjaan karena, menurut keadaanku sekarang, sekalipun aku diangkat, pendapatan yang akan kuterima kan masih kurang. Dalam kedua hal aku terpaksa memberi pelajaran. Tentang dimana itu, akan kuberitahukan padamu dalam waktu singkat.

Demikianlah sekadar cerita tentang diriku. Harus kutambahkan pula, janganlah jawab dulu suratku ini, sebelum kusampaikan padamu alamatku yang baru.

Facebook Comments
BACA JUGA :  Pewayangan Metode Dakwah Sunan Kalijaga