Refleksi Pemuda Dahulu, Kini dan Masa Depan

cerdasnews.com-Refleksi Pemuda Dahulu, Kini dan Masa Depa

CERDASNEWS.COM — “Sejarah Dunia adalah Sejarahnya Orang Muda, jika Angkatan Muda Mati Rasa, Matilah Semua Bangsa”. (Pramoedya Ananta Toer) dalam bukunya Anak Semua Bangsa. Sangat cocok untuk menjadi nasihat bagi kita, anak Bangsa Indonesia, Pemuda Indonesia. Pasalnya, sejarah perjuangan Bangsa Indonesia memang tidak bisa dilepaskan dari peran besar kaum Pemuda .

Sudah 92 tahun, terhitung sejak 28 Oktober 1928 1945, para pemuda Indonesia dimana pada masa itulah pemuda-pemuda memperjuangkan keyakinan yang satu atas nama bangsa Indonesia. Mereka yang berasal dari berbagai organisasi dan latar belakang, seperti Jong Java, Jong Batak, Jong Ambon, Jong Islam Bond, Jong Celebes, Jong Sumatera, Jong Borneo dan lain-lainnya, merasa terpanggil untuk melakukan konsolidasi dan rekonsiliasi untuk bersatu melawan penjajah. Saat itu, Para pemuda sadar bahwa perlu adanya kesadaran kolektif serta identitas kolektif dalam bersatu melawan penjajah. Oleh sebab itu, para pejuang Pemuda-pemuda pada masa itu rela meninggalkan latar belakang atau kepentingan sektoral yang melekat pada dirinya untuk bersatu melawan penjajah dan memperjuangkan kemerdekaan dengan mendeklarasikan diri menjadi Jong Indonesia.

Jika kita melihat lebih dalam tentang sejarah berawal dari Sumpah Pemuda, kita dapat melihat bahwa pemuda lah yang berjuang dengan jiwa dan raganya demi persatuan dan kemerdekaan. Pemuda lah yang menjadi penggerak dan pelopor perubahan nasib bangsa. Pemuda juga lah yang berani berjuang dalam mewujudkan cita-cita bangsa.

Apalagi jika ada pemuda yang tidak mampu, bahkan tidak mau memahami apa makna yang ada dibalik peristiwa Sumpah Pemuda yang bergaung ketika Kongres Pemuda II. Padahal, pada masa itulah titik awal dimana Bangsa Indonesia dideklarasikan dengan prosesi yang penuh pengorbanan darah, jiwa dan raga. Sehingga kita dapat menikmatinya kini. Namun Semangat Sumpah Pemuda seolah dilupakan begitu saja. Lihat saja, banyak pemuda yang menjadi korban life style atau hedonisme bahkan telah menjadi agen-agen penyebarnya. Banyak pemuda yang bangga mendeklarasikan perseteruan dan perpecahan, bukan persatuan. Banyak pemuda yang membungkam nalar kritis dan kemerdekaan dirinya sendiri. Banyak pemuda yang tidak peduli terhadap spirit keberlangsungan Pemuda hari ini, padahal tidak setetes pun darahnya diminta untuk Indonesia.

BACA JUGA :  Rintihan Mahasiswa NTB: Kuliah Online Kurang Efektif, SPP Tetap Bayar

Selanjutnya secara singkat, dinamika perkembangan pemuda terus meningkat dan berdirilah Komite Nasional pemuda Indonesia yang disingkat dengan nama (KNPI) pada tanggal 23 Juli 1973 yang sekarang sudah berusia 47 tahun, bermula dari kegagalan Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) sebagai wadah generasi mahasiswa untuk melanjutkan perannya dalam masa Orde Baru. Berkurangnya peran KAMI sebagai wadah persatuan dan kesatuan generasi muda mahasiswa menimbulkan situasi tidak menentu dalam melanjutkan peranan kaum pemuda pada masa berikutnya. Kaum pemuda, baik secara individual maupun secara organisasi sulit untuk melakukan gerakan mencapai sasaran bersama-sama ditengah situasi konflik nasional.

KNPI yang di motori oleh kelompok Cipayung yaitu HMI (Himpunan Mahasiswa Islam), PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia), GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia), GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) dan PMII (Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia), serta Organisasi Mahasiswa Lokal lainnya, mulai kembali ke akar primordialnya baik secara ideologi maupun politik. Namun begitu, satu hal yang masih disadari adalah bahwa peran yang lebih berarti yang dapat dimainkan oleh kaum pemuda dalam kehidupan bangsa dan negara bisa dilakukan apabila persatuan dan kesatuan sebagai semangat tetap dijiwai kaum pemuda. Dalam keadaan ini, kaum muda menyadari bahwa diperlukan suatu orientasi baru dalam melihat persoalan bangsa dan negara. Orientasi baru tersebut akan berorientasi pada pemikiran yang jauh melebihi kelompoknya sendiri, sehingga dapat menjangkau seluruh bangsa dimasa kini dan masa yang akan datang. Masalah ini juga menjadi perhatian kekuatan sosial politik yang tengah tumbuh sebagai suatu gejala dalam kehidupan politik di Indonesia.

Tepatnya pada tanggal 23 Juli 1973, KNPI dideklarasikan oleh David Napitupulu sebagai ketua umum pertama. Dalam sambutannya dia mengatakan, “Bahwa KNPI berbeda dengan bentuk organisasi pemuda yang dikenal sebelumnya, seperti Front Pemuda yang bersifat federasi yang anggotanya terdiri dari ormas-ormas pemuda, Komite ini tidak mengenal keanggotaan ormas, oleh karena itu Komite ini bukanlah suatu federasi. Dengan memberanikan diri menampilkan tokoh-tokoh eksponen pemuda yang bersumber dari semua ormas-ormas pemuda yang ada di tingkat nasional sebagai orang yang dipercaya sebagai pemimpin KNPI ini, maka tidak berlebihan kalau KNPI akan mempunyai resonansi di masyarakat, khususnya di kalangan pemuda”.

BACA JUGA :  Perkembangan Muhammadiyah di Kota Medan

Mari sama-sama kita refelksikan dan internalisasikan kembali makna dan nilai-nilai persatuan yang diajarkan oleh pejuang-pejuang kaum pemuda terdahulu. Dengan cara membangun kesadaran kolektif (collective awareness) pada diri kita, bahwa sesungguhnya kita memiliki identitas kolektif (collective identity), yakni Bangsa Indonesia. Selanjutnya, mari kita aktualisasikan dengan aksi kolektif (collective action) yang produktif dan konstuktif menuju persatuan dan kesatuan (unity) bangsa Indonesia yang utuh dan masa depan Indonesia yang gemilang.

Ketika terbesit dipikiran saya mengenai sejarah yang semakin lama semakin hilang dalam bilik kesadaran para kaum pemuda baik sejarah berdirinya negeri ini, sejarah kelompok pemuda, sejarah tempat mereka lahir dan sejarah tentang adat istiadat di tempatnya masing-masing. Begitu banyak sejarah yang tidak tersurat menjadikan salah satu faktor utama pemuda tidak mengetahui tentang sejarah tersebut.

Tidak ada alasan lagi di era post modern ini pemuda tidak mengenal dengan sejarah. Namun, apalah arti itu semua ketika pemuda telah disibukkan dengan kemajuan zaman mengganggap tidak ada gunanya untuk lebih jauh mengetahui tentang sejarah. Dari sisi ini, penulis juga merasakan hal yang sama dengan pemuda-pemuda lainnya, akan tetapi penulis menyadari jika seandainya para pelaku sejarah tidak hidup lagi maka jangan salahkan mereka untuk tidak menyampaikan kepada para pemuda namun salahkan pemuda yang tidak peduli tentang sejarah yang masih menumpuk di pikiran para pelaku sejarah. “Ambil Penamu dan Angkatlah Sejarahmu hai Para Pemuda”, begitu penulis memekikkan kalimat tersebut dalam dirinya setiap hari.

Disadari ataupun tidak, sejarah akan tetap bermunculan dengan berbagai versi. Baik menurut versi pelaku sejarah yang satu dan pelaku sejarah yang lainnya. Berbeda versi bagi penulis tidak menjadi tolak ukur untuk mencapai tujuan mengenalkan sejarah kepada pemuda lainnya. Dengan harapan apa yang akan diperoleh dari para pelaku sejarah hendaknya menjadi pengetahuan sendiri untuk dirinya dan keturunannya sehingga keturunannya akan tetap mendapatkan informasi sejarah ketika para pelaku sejarah telah tidak ada lagi yang bisa menceritakannya.

BACA JUGA :  Ancaman Eksistensial Manusia : kerusakan Lingkungan

Tulisan ini hanya buah pikiran dari apa yang dirasakan penulis saja, ketika banyak sekali yang harus dikeluarkan dari otak ini sehingga direspon oleh hati untuk dapat menyusun kata demi kata, kalimat demi kalimat sehingga menjadi paragraf yang dirasakan oleh penulis jauh dari sempurna. Paling tidak, penulis berupaya memotivasi dirinya sendiri untuk dapat lebih memahami sejarah khususnya tentang sejarah pemuda, bangsa dan tatanan adat istiadat ditanah kelahirannya.

“Pemuda dan Sejarah hendaknya menjadi kesatuan yang utuh, yang tidak dapat dipisahkan dari jiwanya”.

Penulis : Nasky Putra Tandjung

Facebook Comments