Perjalanan Hidup Sastrawan Sapardi Djoko Damono

cerdasnews.com-Perjalanan Hidup Sastrawan Sapardi Djoko Damono

CERDASNEWS.COM, JAKARTA — Sastrawan Sapardi Djoko Damono wafat sekitar pukul 09.17 WIB, Minggu (19/7). Sapardi menghembuskan napas terakhirnya di RS EKA BSD, Tangerang Selatan.

Berita duka ini menutup kisah pujangga Hujan Bulan Juni itu sebagai salah satu sastrawan besar Indonesia dengan beragam karya dan penghargaannya. Sapardi Djoko Damono lahir sebagai anak pertama pasangan Sadyoko dan Saparian, pada 20 Maret 1940. Ia dan orang tuanya tinggal di Desa Ngadijayan, Solo, Jawa Tengah. Desa Ngadijayan merupakan tempat tinggal Pangeran Hadiwijaya, seorang pangeran dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, dan berdekatan dengan kampung sastrawan besar lainnya seperti W.S. Rendra dan B. Sutiman di Desa Patangpuluhan.Orang tuanya tidak ada yang berdarah seniman, kecuali kakeknya, seorang abdi dalem yang bertugas sebagai dalang dan penatah wayang di Keraton Surakarta. Sapardi kecil mengenyam pendidikan di Sekolah Rakyat–sekarang sekolah dasar–Kraton Kasatriyan. Ia suka mengunjungi beberapa persewaan buku di kotanya dan mulai mengenal karya sastra yang ditulis Sutomo Djauhar Arifin, William Saroyan, Pramoedya Ananta Toer, Chairil Anwar, hingga Mochtar Lubis.

Pada tahun 1955, ia masuk ke SMA Negeri 2 Surakarta dan sudah mulai menulis sajak yang dimuat di beberapa surat kabar. Minat menulisnya berkembang saat menempuh kuliah di Jurusan Sastra Inggris, Fakultas Sastra dan Kebudayaan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, hingga 1964.

PENDIDIKAN

Usai lulus dari UGM, Sapardi menikah dengan Wardiningsih, adik kelasnya. Ia juga bekerja sebagai dosen di IKIP Malang Cabang Madiun (1964-1968) dan beberapa perguruan tinggi di Solo, lalu pindah ke Fakultas Sastra Universitas Diponegoro Semarang (1969-1974). Pada tahun 1970-1971, Sapardi sempat mengambil program non-gelar dan belajar ilmu dasar humaniora di Universitas Hawaii, Honolulu, Amerika Serikat. Sekembalinya dari Hawaii, ia tetap mengajar di Universitas Diponegoro hingga tahun 1973. Lalu Sapardi hijrah ke Jakarta dan mengajar di Universitas Indonesia, Fakultas Sastra, Jurusan Sastra, Universitas Indonesia, mulai tahun 1974.

BACA JUGA :  KAPAN PERKADERAN FORMAL HMI PERTAMA KALI DI RUMUSKAN ?

Selama di UI, ia juga menjabat Pembantu Dekan III, Fakultas Sastra, Universitas Indonesia tahun 1979-1982, lalu sebagai Pembantu Dekan I pada 1982-1996 dan akhirnya menjabat Dekan pada 1996-1999.Pada tahun 1989, Sapardi memperoleh gelar doktor dalam ilmu sastra dengan disertasi yang berjudul Novel Jawa Tahun 1950-an: Telaah Fungsi, Isi, dan Struktur. Pada tahun 1995 ia dikukuhkan sebagai guru besar di Fakultas Sastra, Universitas Indonesia, hingga pensiun tahun 2005.

AKTIVITAS LEMBAGA

Selain mengajar sebagai dosen, Sapardi juga aktif di beberapa lembaga seni dan sastra. Ia pernah menjadi Direktur Pelaksana Yayasan Indonesia Jakarta (1973-1980), anggota redaksi majalah sastra Horison tahun 1973, Sekretaris Yayasan Dokumentasi Sastra H.B. Jassin tahun 1975, anggota Dewan Kesenian Jakarta (1977-1979), dan sebagainya.

Sapardi juga menginisiasi berdirinya organisasi profesi kesastraan di Indonesia,Himpunan Sarjana-Kesusastraan Indonesia (HISKI) pada 1988. Ia tercatat sebagai anggota Himpunan Pembina Bahasa Indonesia (HPBI) dan Koninklijk Instituut vor Taal Land-en Volkenkunde (KITLV).Karier sastrawan Sapardi juga merambah ke luar negeri, seperti menjadi Country Editor majalah Tenggara Journal of Southeast Asian Literature, Kuala Lumpur, pada 1978 dan anggota penyusun Anthropology of Asean Literature, COCI, ASEAN, tahun 1982.

KARYA SASTRA

Karya-karya puisi Sapardi sangat populer dan sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Sebut saja musikalisasi puisi Aku Ingin oleh Agus Arya Dipayana dan Hujan Bulan Juni oleh H. Umar Muslim tahun 1987. Pada tahun 1990, album Hujan Bulan Juni yang merupakan musikalisasi sajak-sajak Sapardi yang dibawakan duet Ari Malibu dan Reda Gaudiamo. Lalu album Hujan Dalam Komposisi dirilis tahun 1996.

Selanjutnya album Gadis Kecil (2006) diprakarsai duet Dua Ibu, Reda Gaudiamo dan Tatyana, dirilis. Dilanjutkan dengan album Becoming Dew (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu. Selain menulis puisi, Sapardi menerjemahkan beberapa karya asing seperti Kahlil Gibran dan Jalaluddin Rumi ke bahasa Indonesia. Ia juga menulis esai dan mengisi kolom di surat kabar, termasuk topik sepak bola.

BACA JUGA :  DEMOKRASI KITA SUDAH RUSAK !

Pada tahun 1986, tiga buah esai dan sejumlah sajak Sapardi diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang sebagai salah satu penerbitan sastra dunia. Sajak-sajak yang lainnya diterjemahkan dalam bahasa Inggris, Belanda, Cina, Jepang, Perancis, Urdu, Hindi, Jerman, dan Arab. Sejak tahun 1970 Sapardi sering diundang seminar dan membaca puisi di luar negeri di beberapa negara, seperti di Amerika, Eropa, Asia, dan Australia.

Berkat sumbangsihnya di dunia sastra, ia banyak menerima penghargaan, antara lain Cultural Award (1978) dari Australia, Anugerah Puisi Putra (1983) dari Malaysia, Mataram Award (1985) dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, SEA Write Award (1986) dari Thailand, Anugerah Seni (1990) dari Indonesia, Kalyana Kretya (1996) dari Menristek RI, Habbie Center (2001), dan Penghargaan Achmad Bakrie (2003).

Mengutip penggalan sajak Pada Suata Hari Nanti, meski Sapardi sudah pergi untuk selamanya, namun tiap bait sajaknya akan menghiasi dunia kesastraan Indonesia dan tetap abadi. Selamat Jalan, si Hujan Bulan Juni.

sumber : kumparan.com

Facebook Comments