Agus Salim Sitompul : 44 Indikator Kemunduran HMI

CERDASNEWS.COM, – Prof. Dr. H. Nurcholish Madjid, memberikan peringatan keras terhadap HMI ketika menjelang Kongres ke-23 HMI di Balikpapan tahun 2002. Nurcholish dalam peringatan itu mengatakan bahwa apabila HMI tidak bisa melakukan perubahan, lebih baik membubarkan diri. Peringatan itu sebagai shock therapy dengan harapan, HMI dapat dan mampu melakukan perubahan terhadap dirinya yang banyak kalangan dipandang bahwa dalam tubuh HMI ditemukan berbagai kekurangan yang sifatnya negatif.

Kondisi seperti inilah yang menyebabkan munculnya stigma negatif terhadap HMI yang meliputi berbagai aspek seperti tentang keislaman, keindonesiaan, kemahasiswaan, keorganisasian, keHMIan, kedipsilinan, kurangnya respon terhadap berbagai masalah yang berkembang dalam kehidupan berbangsa bermasyarakat, dan bernegara, HMI tidak diminati lagi oleh mahasiswa, HMI hanya pandai berpendapat, tetapi tidak bisa melakukan perbuatan nyata (action), HMI sangat lemah dalam hal networking (jaringan), HMI sangat lemah dalam bidang informasi, publikasi, dokumentasi, banyak anggota HMI tidak memiliki sifat amanah, pamrih dalam berjuang, kurang dilandasi dengan semangat ikhlas. HMI tidak lulus dalam sejarah, yaitu dengan adanya organisasi yang menamakan dirinya “HMI-MPO”.

Maka dari kondisi HMI seperti itu, mutlak dilakukan tindakan atau langkah untuk mengubah stigma negatif HMI itu, dengan berbagai cara dan tindakan nyata. Kalau stigma negatif HMI tidak segera dilakukan perubahan, maka reputasi HMI pasti akan lebih merosot dari kondisi yang ada sekarang, yang ditandai 44 indikator kemunduran HMI. Terutama oleh Pengurus sejak dari PB sampai Komisariat bahkan seluruh anggota HMI, suka tidak suka, mau tidak mau, harus memiliki kesadaran kolektif, bahwa mengubah stigma negatif HMI harus dilakukan saat ini juga. Di sini tidak ada tawar-menawar lagi. Apabila HMI terlambat melakukan perubahan integral, maka dampaknya akan semakin buruk bagi kelangsungan hidup HMI untuk masa-masa mendatang.

BACA JUGA :  Idul Fitri Hari Kemanusiaan.

Ini merupakan 44 Indikator Kemunduran HMI :

1. Menurunnya jumlah mahasiswa baru yang masuk HMI.

2. HMI semakin jauh dari mahasiswa.

3. Pola perkaderan Hmi yang dirancang pertengahan abad ke-20 sudah ketinggalan dan tidak sesuai lagi untuk memenuhi tuntutan zaman abad ke-21.

4. HMI dan kader-kader penerus kurang mampu mengikuti jejak para pendahulunya yang memiliki pandangan visioner, sebagaimana dilakukan pemrakarsa pendiri HMI Lafran Pane dan para penerusnya.

5. Kurang berfungsinya aparat HMI seperti Badko.

6. Kurang berfungsinya Komisariat sebagai ujung tombak dalam rekrutmen anggota, pembinaan anggota, sebagai syarat kelanjutan kehidupan organisasi, yang mengambil basis di Perguruan Tinggi.

7. Tidak terbentuknya Komisariat HMI di seluruh Perguruan Tinggi yang terdapat di suatu kota.

8. Lemahnya manajemen organisasi HMI dan sudah ketinggalan zaman, tidak sesuai lagi dengan tuntutan kebutuhan kontemporer.

9. Kurangnya pengetahuan, pemahaman, penghayatan, pengamalan ajaran agama Islam di kalangan anggota dan pengurus.

10. Belum optimalnya pengetahuan, pemahaman, dan penghayatan anggota dan pengurus HMI di hampir semua tingkatan kepengurusan tentang khasanah-khasanah ke-HMI-an dan keorganisasian.

11. Kurang berfungsinya lembaga-lembaga kekaryaan HMI.

12.  Peringatan Dies Natalis HMI setiap tahun tidak semarak lagi dengan berbagai acara, seperti kegiatan ilmiah, pengabdian kepada masyarakat, kegiatan kesenian, pameran, bazar dan lain-lain.

13. Setiap acara-acara HMI sepi dari pengunjung.

14. Memudarnyanya “tradisi intelektual HMI”.

15.   HMI tidak punya gagasan atau karya yang layak diketengahkan sebagai kontribusi untuk memecahkan berbagai problem yang muncul dalam masyarakat.

16. HMI kehilangan basis intelektual di kampus-kampus eksklusif di negeri ini.

17. Follow up perkaderan tidak berjalan sebagaimana mestinya.

18.  HMI jarang melakukan evaluasi terhadap perjalanan organisasi dengan segala aktivitas pada umumnya, maupun pelaksanaan program kerja pada khususnya secara proporsional, berencana dan kontinyu.

BACA JUGA :  DISINTEGRASI BELAJAR ONLINE DAN TUJUAN PENDIDIKAN NASIONAL

19. Munculnya kegiatan-kegiatan mahasiswa di dalam dan di luar kampus (Seksi Kerokhanian mahasiswa Islam, Remaja Masjid, dsb).

20. Menurunnya peran HMI dalam gerakan-gerakan mahasiswa di tingkat regional maupun nasional dalam merespon berbagai tantangan.

21. Timbulnya organisasi mahasiswa Islam yang baru.

22. Berlarut-larutnya penyelesaian masalah “domestik” HMI. Antara HMI DIPO dan HMI MPO, yang banyak menguras tenaga.

23. Kehilangan panutan.

24. Senang membuat program, kurang mampu membuat agenda pelaksanaannya.

25. Program dibuat tanpa target.

26. HMI kehilangan strategi perjuangan.

27. HMI terlalu banyak retorika daripada action.

28.  HMI kurang mampu mencetak kader dan pengurus yang bertipe problem solving, dan lebih cenderung mencetak kader yang bertipe solidarity making.

29. HMI banyak terlibat dalam kegiatan politik, sehingga banyak menyedot perhatian, tenaga, pikiran, bahkan dana.

30. HMI sebagai mata rantai gerakan pembaharuan di Indonesia, akhir-akhir ini tidak menampakkan lagi pemikiran-pemikirannya yang cemerlang untuk melakukan pembaharuan dalam berbagai pemikiran.

31. HMI cenderung menjadi organisasi massif, tidak diimbangi dengan perkaderan yang intensif sekaligus selektif.

32. Daya kritis aktivis HMI menurun.

33. Patut dikritik sebagai suatu kelemahan HMI adalah di bidang Dokrah (Dokumen dan Sejarah) yang langsung ditangani pengurus.

34. HMI kehilangan nama (tuah), kekuatan batin (yang pernah dimilikinya).

35. HMI kini kecil baik dari segi peranannya maupun kuantitas dan kualitas.

36.   Organisasi besar, modern seperti Hmi sangat disayangkan apabila tidak memiliki media yang representatif sebagai penghubung antar aparat, antar anggota dan perngurus serta untuk penyaluran ide, serta pemikiran.

37. HMI tidak punya jaringan.

38. HMI lambat, bahkan terlambat tidak dapat mengikuti perkembangan realitas sosial budaya yang berkembang sangat cepat.

39. Perbuatan jelek yang dilakukan beberapa orang kader, anggota dan alumni HMI berdampak dan membawa akibat yang negatif pada semua kader HMI termasuk kader yang baik maupun alumni HMI.

BACA JUGA :  Ditengah Ramadhan, Mahasiswa KKN UNIMAL Lakukan Kegiatan Bermanfaat

40. Ketika pemilihan Ketua Umum PB HMI berlangsung di Kongres HMI, nampak gejala terjadi main duit atau money politic yang sangat merusak moral dan akhlak kepemimpinan serta citra HMI di mata anggota dan masyarakat luas.

41. HMI dan anggotanya tidak memiliki disiplin organisasi yang tinggi.

42. Anggota, aktivis HMI terlalu berpikiran umum dan global.

43. HMI tidak dapat memelihara dan mempertahankan serta meningkatkan keberhasilan yang pernah dicapai, sehingga apa yang pernah dicapai tersebut tidak dapat dikonsolidasikan sebagai modal perjuangan selanjutnya, bahkan hilang dan pupus dalam perjalanan sejarah.

44. Karena faktor-faktor yang disebut di atas, HMI nyaris kehilangan jati diri, sehingga tidak mempunyai kepribadian yang utuh-pecah.

sumber : buku 44 indikator kemunduran HMI

Facebook Comments